Sajak 1 : Mustahil


Lucu memang sore itu, bagaimana bisa kau muncul begitu saja saat hati sudah berniat untuk sembuh

Kita nampak begitu idiotnya, tak satupun kata terlontar dari bibirmu maupun aku. Padahal dulu kita pernah sama rasa kan.

Manusia terlahir punya rasa, tapi dari sekian macam rasa kenapa harus ada rasa pahit

Serius, sedetik lagi menuju lupa akan engkau tapi kenapa kau tega kembali berlalu lalang, merusak kabut imaji ku tentang masa depan setelah ini.

Tak mudah tangan tuk memilih yang pantas tuk digenggam, tak mudah mata tuk fokus pada satu tatapan, dan tak mudah hati mengeleminasi pilihan. Namun, kenapa saat hati ini telah mantap di kamu, malah harus berakhir dengan lara juga.

Aku yakin tak ada pertemuan yang kebetulan, begitu juga dengan perpisahan, keduanya mengalir begitu saja mengikuti rencana yang sudah diguratkan oleh sang kuasa.

Klise, rasanya seperti berdilema dengan situasi. Aku pernah merasakan ini sebetulnya, mohon jangan kau pertebal pengalamanku akan sakit hati.

Jika memang tak bisa terikat, maka pergilah dan tak usah menoleh ke belakang. Tenang aku baik-baik saja, aku tak selamanya redup, di depanku masih banyak gemintang meski jauh.

Setidaknya jika kau Hawa-ku dan aku Adam-mu, tenang tentu masa depan akan kembali mengundang kita tuk saling bertemu dan tersipu malu lagi. Namun, jika bukan kita, setidaknya aku dan engkau pernah memadu rasa kan, meski tak abadi jua.

Jika bukan kita yang berjodoh, ku harap anak kita kelak yang berikrar.

Writer : M. Rio Aldino

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama